Mengulas Tentang Beberapa Resiko dari Transfusi Darah

Transfusi darah merupakan proses menyalurkan darah ke tubuh. Transfusi darah ini dilakukan agar bisa menyelamatkan nyawa saat tubuh kekurangan darah. Ada begitu banyak manfaat dari transfusi darah, namun ternyata resiko transfusi darah ini juga besar. Di Indonesia kegiatan seperti transfusi darah ini dikelola oleh PMI. Organisasi PMI menghimpun kantong darah dari pendonor dan mendistribusikannya ke lokasi yang memerlukan pasokan darah. Sebelum dilakukan distribusi, PMI melakukan analisis pemeriksaan untuk menguji kelayakan darah sehingga bebas dari penyakit.

Bukan hanya itu, PMI akan melakukan pemisahan komponen darah yaitu sel darah merah, putih, plasma, trombosit, tergantung dari seperti apa jenis darah yang diperlukan. Untuk prosesnya sendiri, proses mulai dari satu sampai 4 jam tergantung komposisi darah serta banyaknya darah yang diperlukan, sebelum proses transfusi darah, status Rh dari pendonor serta penerima akan dicocokkan dahulu.

Lantas, apa saja kondisi yang memerlukan transfusi darah? Berikut beberapa kondisi yang memerlukan transfusi darah, antara lain:

  • Kekurangan darah karena melahirkan. Saat melahirkan ada wanita yang mengalami pendarahan. Kondisi ini dapat menyebabkan kurang darah dan transfusi darah diperlukan saat kondisi ini,
  • Menjalani operasi. Ketika operasi Anda bisa kehilangan banyak darah dan mengakibatkan penurunan sel darah merah,
  • Menderita kanker. Sebenarnya kanker juga bisa mengurangi produksi darah merah, trombosit dan sel darah putih. Hal ini masih diperparah dengan obat yang digunakan saat kemoterapi. Obat ini bisa menurunkan produksi darah,
  • Kerusakan hati yang parah. penderita gagal hati membutuhkan transfusi darah apalagi jika zat pembekuan yang berada di tubuh telah terganggu.

Resiko transfusi darah yang terjadi bisa seperti demam. Demam bisa terjadi dengan cepat setelah atau selama transfusi darah ini dilakukan. Biasanya, demam ini bukan menjadi tanda serius namun terdapat reaksi serius dari tanda demam. Biasanya, dokter akan menghentikan transfusi darah untuk berjaga-jaga. Ada juga alergi. Alergi dikarenakan sistem kekebalan tubuh bereaksi pada protein serta zat lain di dalam darah. Reaksi ini juga terjadi dengan cepat selama melakukan proses transfusi darah.

Leave a Reply

%d bloggers like this: